Kali ini saya akan membahas tentang open innovation dan open business model. Hmm.. berat juga ya bahasannya. Oke, kita mulai aja..

Sebelumnya, apasih sebenernya open innovation itu?

Baru-baru ini istilah open innovation memang kerap kali terdengar. Istilah “Open Innovation” pertama kali diungkapkan oleh Chesbrough. Dalam bukunya, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih  beliau menyebutkan bahwa open innovation merupakan paradigma yang mengasumsikan bahwa sebuah perusahaan bisa dan harus menggunakan ide-ide dari luar ataupun dalam, dan jalur internal dan eksternal ke pasar, sebagai usaha memajukan teknologi yang dimilikinya untuk keuntungan perusahaan. Paradigma tersebut merupakan pergeseran dari apa yang disebut closed innovation.

Seperti apakah closed innovation?, apabila digambarkan, seperti inilah proses dari closed innovation:

Lalu pertanyaannya, mengapa sistem tersebut berubah dari closed menjadi open?

Beberapa faktor menyebabkan closed innovation tidak efektif lagi untuk diterapkan. Pertama, mobilitas dan ketersediaan SDM yang berpendidikan yang meningkat dari tahun ketahun. Akibatnya, banyak pengetahuan-pengetahuan penting yang dihasilkan dari lingkungan diluar perusahaan besar sekalipun. Selain itu, ketika seorang karyawan telah berganti pekerjaan, ilmu yang didapatnya akan mudah menyebar ke perusahaan lain tempat karyawan tersebut bekerja selanjutnya. Kedua, ketersediaan modal usaha telah meningkat secara signifikan, yang memungkinkan ide-ide bagus dan menjanjikan, serta teknologi untuk dikembangkan lebih lanjut diluar perusahaan, misalnya dalam bentuk kewirausahaan. Disamping kedua hal tersebu masih terdapat faktor-faktor lainnya yang ikut berperan. Kesemuanya merupakan konsekuensi dari perkembangan global yang terjadi. Akibatnya, perusahaan harus mulai mencari cara lain untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses inovasi mereka. Misalnya, melalui pencarian aktif untuk teknologi baru dan ide-ide yang ada diluar perusahaan, tanpa melupakan kerja sama dengan pemasok dan pesaing.

Apabila digambarkan, sistem open innovation akan seperti berikut:

Tabel berikut menggambarkan landscape perbedaan yang ada:

Closed innovation principles Open innovation principles
The smart people in the field work for us. Not all the smart people in the field work for us. We need to work with smart people inside and outside the company.
To profit from R&D, we must discover it, develop it, and ship it ourselves. External R&D can create significant value: internal R&D is needed to claim some portion of that value.
If we discover it ourselves, we will get it to the market first. We don’t have to originate the research to profit from it.
The company that gets an innovation to the market first will win. Building a better business model is better than getting to the market first.
If we create the most and the best ideas in the industry, we will win. If we make the best use of internal and external ideas, we will win.
We should control our IP, so that our competitors don’t profit from our ideas. We should profit from others’ use of our IP, and we should buy others’ IP whenever it advances our business model.

So, what is the correlation between open innovation and open business model?

Sebelumnya, suatu model bisinis menggambarkan pemikiran tentang bagaimana sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai-nilai- baik itu ekonomi, sosial, ataupun bentuk-bentuk nilai lainnya. Dalam mengaplikasikan sebuah open innovation, business model tersebut memiliki peran yang krusial. Semakin  sebuah perusahaan mengerti tentang open business model, semakin mereka menyadari betapa mereka harus mengubah inovasi mereka untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dari sebuah paradigma open innovation. Karena open innovation bukan tentang bagaimana mencari teknologi baru semata. Untuk berkembang, sebuah perusahaan harus mampu untuk menyesuaikan business model mereka untuk membuat mereka lebih terbuka kepada ide-ide eksternal serta jalur ke pasar.

 


Advertisements